Candi Sukuh

Kabupaten Karanganyar

Informasi Umum
 Data diperbarui: Sabtu, 16 Januari 2016

Nama Objek : Candi Sukuh
Lokasi : Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Buka :  Setiap Hari  08.00 - 17.00 WIB
Harga Tiket : Pengunjung domestik: Rp 2.500; Pengunjung mancanegara: Rp. 10.000
Koordinat GPS : -7.627180, 111.131404

Candi yang terkenal akan relief dan arca – arcanya yang tidak lazim dan nyeleneh dibanding candi – candi lain di Indonesia. Bentuk candinya berupa trapesium yang sekilas tampak menyerupai suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.

Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu,berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Pada saat itu, Jhnson ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.

Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), dimana semakin kebelakang semakin tinggi.

  • Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
     
  • Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala yang biasa ada, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung-patung. Pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun1456 Masehi.
     
  • Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.


Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. tempat ini masih sering digunakan untuk bhersembahyang. Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.

  • Relief Pertama
    Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.
     
  • Relief Kedua
    Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai para raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.
     
  • Relief Ketiga
    Relief ini menggambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.
     
  • Relief Keempat
    Relief ini meggambarkan Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.
     
  • Relief Kelima
    Relief ini menggambarkan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.

Patung-patung sang Garuda        

Pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adipara, kitab pertama Mahabarata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.

Beberapa bangunan dan patung lainnya

Di obyek wisata ini juga ditemukan beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah. Ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kiri dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.


  GALERI

  Komentar Anda


  Saran Kuliner
Pemancingan & RM Lesehan Ganten Permai 3
Jl. Batu Jamus-Kemuning, Desa Ganten KM 3, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar
Pemancingan lesehan bernuansa gabungan agrowisata dan perikanan yang alami.
RM Lesehan & Pemancingan Java Resto
Dukuh Pentukrejo, Kemuning, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Java resto menyediakan spesial iga bakar, kakap bumbu rujuk, kakap lombok ijo, udang pedas
RM HARMONI
JL. Raya Kertek KM 5,8, Kertek, Kabupaten Wonosobo
RM Harmoni merupakan restoran di Wonosobo yang menawarkan kenyamanan dan menu spesial ayam taliwang dan plecing kangkung.

  Saran Akomodasi
The Wujil Resort & Conventions
Jl. Soekarno-Hatta Km 25,5 Ungaran, Kabupaten Semarang
Nestled in four hectares of greenery and pure nature and strategically located in the triangle of 3 cities: Semarang, Solo & Yogyakarta, the Wujil Resort & Conventions – managed by TAUZIA Hotel Management offers a natural backdrop which makes it an idea
Griya Puspita Bonsai
Jl. Raya Lemah Abang KM 3 Bergas Kidul, Bandungan, Kabupaten Semarang
Griya Puspita Bonsai merupakan Convention Hall yang menawarkan suasana yang unik dengan hamparan bonsai yang indah.
Grand Wahid Hotel
Jl. Jendral Sudirman No. 2, Kota Salatiga
Hotel bintang 4 yang terletak di pusat kota Salatiga, dengan kamar yang elegan, dan banyak fasilitas pendukung yang akan memanjakan para tamu yang datang.