Masjid Besar Kauman

Kota Semarang

Informasi Umum
 Data diperbarui: Rabu, 13 Januari 2016

Nama Objek : Masjid Besar Kauman
Tipe Objek : Wisata Religi  Religi Islam
Lokasi : JL Alun-alun Barat No. 11, Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah
Telp : (024) 8310155
Koordinat GPS : -6.964002, 110.434476

Masjid Kauman Semarang dulunya bernama Masjid Agung Semarang sesuai dengan nama yang tertulis di gerbang Masjid dan tertulis di fasad depan masjid. Tulisan dengan aksara arab cukup besar, namun masyarakat lebih mengenal masjid ini dengan sebutan Masjid Besar Kauman Semarang. Masjid Kauman merupakan rangkaian perkembangan dari sejarah pembangunan masjid di Semarang. Masjid pertama di Semarang ini dulu terletak di daerah mugas yang didirikan oleh Kyai Ageng Pandan Arang. Ketika beliau hijrah ke kota Semarang, beliau mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pembangunan masjid yang terletak di komplek alun-alun Semarang itu merupakan suatu masjid paling besar di Semarang yang akhirnya mengabadikan nama Kyai Adipati Surohadimenggola II sebagai pendiri pertama Masjid Besar Kauman Semarang.

LOKASI MASJID BESAR KAUMAN SEMARANG

Pada tahun 1983, Masjid Besar Kauman Semarang masih berlatar depan Alun Alun Kota Semarang. Alun alun kota Semarang sendiri kini sudah beralih fungsi sejak tahun 1938. Kini sudah penuh sesak menjadi kawasan pertokoan Pasar Yaik, Pasar Johar, gedung BPD dan Hotel Metro yang kemudian menjadi Kawasan Perdagangan Johar.

Masjid ini terkepung oleh bangunan-bangunan tinggi. Masjid Besar Semarang ini letaknya tidak lagi berada dalam wilayah Kampung (Kelurahan) Kauman, tetapi masuk dalam wilayah Kelurahan Bangunharjo Semarang Tengah.

SEJARAH MASJID BESAR KAUMAN SEMARANG

Dibangun pada tahun 1170 Hijriah, berpepatan dengan tahun 1749 M. Hal ini didasarkan dengan adanya

Menurut inskripsi berbahasa dan berhuruf jawa yang terpatri di batu marmer tembok bagian dalam gerbang masuk ke Masjid Besar Kauman Semarang, masjid ini dibangun pada tahun 1170 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1749M. lengkapnya inskripsi tersebut berbunyi seperti berikut :

“Pemut kala penjenengane Kanjeng Tuwan Nikolas Harting hedelir gopennar serta sarta Direktur hing tanah Jawi gennipun kangjeng Kyahi Dipati Suradimanggala hayasa sahega dadosse masjid puniki kala Hijrat 1170”

Arti inskripsi tersebut dalam bahasa Indonesianya adalah sebagai berikut:

“Tanda peringatan ketika kanjeng Tuan Nicoolass Hartingh, Gubernur serta Direktur tanah Jawa pada saat Kanjeng Kyai Adipati Suramanggala membangun hingga jadinya masjid ini pada tahun 1170 Hijrah”

Tuan Nicoolass Hartingh adalah tokoh utama penggerak lahirnya perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Hasil dari perjanjian ini mengakibatkan pecahnya wilayah Kesultanan Mataram atau dikenal dengan Palihan Nagari menjadi wilayah kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat berpusat di Yokyakarta dan Kasunanan Surakarta. Nicoolas Hartingh kemudian dihadiahi rumah dinas oleh pemerintah penjajahan Belanda (VOC) di daerah tugu muda dengan nama De Vredestein atau Wisma Perdamaian.

ARSITEKTUR

Arsitektur Masjid Besar Kauman Semarang ini sering disebut dengan konsep tektonika. Sistem yang mirip dengan struktur tumpang pada bangunan tumpang berpenyangga berpilar lima pada bangunan bangunan pra Islam di tanah Jawa. Menurut Ir. Totok Roesmanto, diterapkannya sistem tektonik dalam pembangunan Masjid Besar Kauman Semarang ini bukan menggunakan soko guru layaknya Masjid Agung Demak, menunjukkan ketidakmampuan ahli bangunan Belanda pada masa itu mencerna aplikasi sistem konstruksi brunjung empyak pada bangunan tajuk tradisional.

Penggunaan sistem tektonik ini mengarah kepada struktur bangunan yang rigid. Empat sokoguru digantikan dengan pilar pilar bata penopang rangkaian pilar dan balok kayu di atasnya. Pada rangkaian bangunan ini juga dikenal sistem dhingklik yang menopang pilar pilar balok kayu yang lebih kecil di atasnya dan bntuk bangunan itu dan seterusnya.

Dari tahun pendirian Masjid Besar Kauman Semarang ini, menjadikan Masjid Kauman Semarang sebagai masjid pertama di Jawa yang bercitra tradisional, namun menggunakan konstruksi modern. Karya demikian dikenal dengan sebutan arsitektur masjid modern tradisionalistik.

Secara keseluruhan masjid kauman ini mencirikan bangunan tradisional Jawa. Dengan atap limas besusun tiga yang mempunyai arti filosofi Iman, Islam, dan Ikhsan. Bentuknya seperti bangunan Majapahit, disokong 36 pilar. Tajug paling bawah menaungi tempat ibadah, tajug kedua lebih kecil, dan tajug tertinggi berbentuk limas. Limas tersebut berhias mustika, sementara pintunya dari rangkaian daun waru. Semua tajug ini ditopang kayu jati. Ciri khas yang mengacu pada tradisi Arab atau Persia. Ornamen seperti ini hampir serupa pada Masjid Agung Demak.

Pada bagian utama masjid, yaitu ruang salat, hanya diperbolehkan bagi muslim laki-laki. Di sini berdiri seperti singgasana nan megah, kursi mimbar tempat khotbah. Ukiran kayu mimbar ini tampak rumit. Lengkungan-lengkungannya indah. Pahatan halus menunjukkan kelenturan tangan berseni pembuatnya. Di pojok terdapat pula jam bandul kuno yang masih digunakan. Untuk mencapai ruang salat utama, jamaah melewati beberapa pintu di sisi kanan dan kiri (bagi perempuan). Barisan pintu ini pun terbuat dari kayu jati bermotif pahatan kotak-kotak sederhana.

Masjid aslinya sendiri kini cukup sulit untuk dilihat karena sudah tertutup oleh bangunan masjid baru dibagian depan masjid asli ditambah dengan himpitan gedung gedung disekitarnya.aslinya masjid ini beratap seng, kini sudah diganti dengan genteng beton. Sebuah menara yang cukup tinggi juga sudah menjadi pelengkap bagi Masjid Besar Kauman Semarang ini. Tampakan depan nya sudah jauh lebih modern tanpa kehilangan keaslian bangunan aslinya.

TRADISI RAMADHAN DI MASJID BESAR KAUMAN

Ketika bulan Ramadhan tiba, lebih tepatnya setelah shalat dzuhur hingga menjelang ashar, masjid ini dipenuhi oleh banyak orang yang mendengarkan pengajian Al Qur’an. Biasanya dipimpin oleh Al Hafiz. Al Hafiz juga mampu menafsirkan inti dari setiap kata dan ayat Al Qur'an, yang disampaikan dalam bahasa Jawa. Masjid ini selalu ramai dikunjungi oleh umat islam dari berbagai daerah.

PROSESI PAWAI DUKDERAN

Untuk menyambut bulan suci Ramadhan, biasanya  terdapat tradisi prosesi pawai Dugderan. Pawai ini kini digabungkan kegiatannya bersama sama 3 masjid utama kota Semarang, yakni Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal Masjid Kauman, Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima, dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Pawai dugderan yang telah direncanakan biasanya mengambil dua garis start, di Masjid Kauman yang dipimpin Wali Kota Semarang dan Masjid Baiturrahman yang dipimpin Gubernur Jateng. Kemudian kedua rombongan pawai yang berangkat dari dua masjid berbeda kemudian dipertemukan Jl Ahmad Yani. Selanjutnya berangkat bersama-sama menuju MAJT. Awalnya pelaksanaan pawai dugderan berangkat dari halaman Balai Kota menuju Masjid Kauman. Tetapi beberapa tahun terakhir, rute pawai diteruskan hingga ke MAJT.

Perubahan konsep itu juga mencakup lokasi pasar malam yang selalu menyertai tradisi dugderan yang memiliki ikon unik, yakni karakter warak ngendhog. Pasar malam dugderan ini sejak tahun 2008 ditempatkan di sekitar MAJT. Sementara tahun-tahun sebelumnya selalu di sekitar Masjid Kauman. Upaya pengembangan pawai dugderan ini untuk lebih menyemarakkan kegiatan tradisi budaya yang sudah ada sejak lama.


  GALERI

  Komentar Anda


  Saran Kuliner
Rumah Makan dan Lesehan Ibu Iroh Sraten
Jl. Raya Salatiga Muncul Km 3 (Sraten - Gajah), Kota Salatiga
Rumah Makan Lesehan Ibu Iroh Sraten. Unggul dalam rasa, bermacam menu masakan, bersaing harganya
Pemancingan 51 Putriana
Janti, Polanharjo, Klaten, Kabupaten Klaten
Pemancingan yang mengutamakan cita rasa khas masakan, didukung dengan fasilitas gratis seperti kolam renang, menjadikan Pemancingan 51 salah satu pilihan untuk berlibur bersama keluarga
ATM CAFE
Jl. Raya Magelang - Bandongan, Trasan, Bandongan , Kabupaten Magelang
Cafe dengan konsep natural, spesial bebek goreng dan susu tape.

  Saran Akomodasi
Kayu Arum Resort
Jl. Magersari Ringinawe Tegalrejo, Kota Salatiga
Kayu Arum is a world-class resort offering the finest accommodation, dining and body treatments. Experience the pleasure of revitalizing the senses in a unique and enchanting resort atmosphere.
Grand Wahid Hotel
Jl. Jendral Sudirman No. 2, Kota Salatiga
Hotel bintang 4 yang terletak di pusat kota Salatiga, dengan kamar yang elegan, dan banyak fasilitas pendukung yang akan memanjakan para tamu yang datang.
The Wujil Resort & Conventions
Jl. Soekarno-Hatta Km 25,5 Ungaran, Kabupaten Semarang
Nestled in four hectares of greenery and pure nature and strategically located in the triangle of 3 cities: Semarang, Solo & Yogyakarta, the Wujil Resort & Conventions – managed by TAUZIA Hotel Management offers a natural backdrop which makes it an idea