Tugu Muda

Kota Semarang

Informasi Umum
 Data diperbarui: Selasa, 12 Januari 2016

Nama Objek : Tugu Muda
Lokasi : Persimpangan Jl. Pandanaran, Jl. Imam Bonjol, Jl. Soegiyopranoto, Kota Semarang, Jawa Tengah
Koordinat GPS : -6.984078,110.409257

Monumen bersejarah ini dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang ketika melawan penjajah Jepang dari tanggal 14-19 Oktober1945. Tugu muda ini menggambarkan semangat juang warga Semarang khususnya para remaja untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kota Semarang pada khususnya. Atas prakarsa Koordinasi Pemuda Indonesia, didirikanlahTugu Muda ini. Tetapi rencana ini gagal karena mengalami sebuah kendala dalam pendanaan. Sehingga pada tahun 1951 dibentuklah Panitia Tugu Muda yang diketuai Subeno Sosro Wardoyo (Walikota Semarang pada saat itu). Rancangan desain Tugu Muda ini dilakukan oleh Salim, sedangkan pada bagian relief dikerjakan oleh seniman yang bernama Hondro.

Di sebelah utara Tugu Muda ini terdapat Gedung Pandanaran,  di sebelah Timur terdapat obyek wisata Lawang Sewu, di sisi selatan berhadapan dengan Museum Mandala Bhakti, sedangkan di sebelah barat Tugu Muda terdapat Wisma Perdamaian.

Hingga saat ini Tugu Muda menjadi sebuah tempat berkumpul oleh kawula muda Semarang untuk bersantai, berkumpul, bercanda, photo-photo pada malam hari, terutama malam Minggu di area Tugu Muda Semarang sangat ramai.

DESKRIPSI

Makna dari Tugu Muda yang berbentuk seperti lilin yakni semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Penampang Tugu Muda berbentuk segi lima. Tugu ini terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu.

Di taman di berikan beberapa ornamen air mancur, lampu-lampu warna putih dan kuning yang akan menambah kesan anggun di malam hari. Terdapat pula pohon cemara, duplikasi senjata bambu runcing yang tegak berdiri berjajar sebanyak 5 (lima) buah. Bambu runcing ini menggambarkan Pertempuran lima hari di Semarang dengan bersenjatakan bambu runcing.

Pada bagian kaki tugu terdapat relief dengan lima buah sangga pilar, yang dipergunakan untuk menggambarkan berbagai macam relief, juga dimaksudkan sebagai lamban Pancasila. Pada tiap-tiap sangga terdapat hiasan-hiasan yang berbeda satu dengan yang lain yaitu:

  • Relief Hongerodeem
    Menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang sangat tertindas dan banyak yang menderita kelaparan, hingga hongerodeem atau penyakit busung lapar merajalela di kalangan masyarakat.
     
  • Relief Pertempuran
    Menggambarkan betapa besar gelora semangat juang serta keberanian para pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan negara dan bangsanya.
     
  • Relief Penyerangan
    Menggambarkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajahan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
     
  • Relief Korban
    Menceritakan tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang,  bahwa pada pertempuran tersebut banyak rakyat yang menjadi korban.
     
  • Relief Kemenangan
    Menggambarkan hasil jerih payah dan pengorbanan yang telah membasahi bumi kota Semarang.

SEJARAH PEMBANGUNAN

Pembangunan Tugu Muda ini dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945, oleh Mr. Wongsonegoro, yakni Gubernur Jawa Tengah pada saat itu. Rencana awal tugu ini akan diletakkan di dekat alun-alun, namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian atas prakarsa  Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) pada tahun 1949, pembangunan tugu kembali dilakukan, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Pada tahun 1951 dibentuk Panitia Tugu Muda untuk merancang pembangunan kembali, tetapi lokasinya di semarang yakni di pertemuan Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran seperti lokasi saat ini. Akhirnya pada tanggal 10 November 1951, Boediono (Gubernur Jawa Tengan) meletakkan batu pertama di lokasi tersebut.

Tugu ini diresmikan  pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional oleh Ir. Soekarno.

Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro.  Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari Kaliurang dan Paker.


  GALERI

  Komentar Anda


  Saran Kuliner
Pemancingan Banyu Bening
Jl. Patimura KM 1, Domas, Kota Salatiga
Pemancingan dengan nuansa alam di kota Salatiga, sangat cocok untuk segala acara Anda.
Pemancingan 1000 Taman Air
Janti, Polanharjo, Klaten, Kabupaten Klaten
Pemancingan yang tidak hanya menawarkan masakan ikan melainkan juga berbagai wahana permainan menarik seperti waterboom, aneka patung binatang, taman air, dll.
ATM SEAFOOD
Jl. Raya Magelang - Jogja KM 9 Blabak, Mungkid, Kabupaten Magelang
Area Tempat Makan (ATM) Spesial Seafood di Mungkid, Magelang.

  Saran Akomodasi
Grand Wahid Hotel
Jl. Jendral Sudirman No. 2, Kota Salatiga
Hotel bintang 4 yang terletak di pusat kota Salatiga, dengan kamar yang elegan, dan banyak fasilitas pendukung yang akan memanjakan para tamu yang datang.
Griya Puspita Bonsai
Jl. Raya Lemah Abang KM 3 Bergas Kidul, Bandungan, Kabupaten Semarang
Griya Puspita Bonsai merupakan Convention Hall yang menawarkan suasana yang unik dengan hamparan bonsai yang indah.
Graharu Boutique Hotel
Tingal Wetan RT 05 RW 02, Wanurejo, Mungkid, Kota Magelang
Graharu Boutique Hotel - boutique hotel yang unik dengan nuansa Jawa yang sangat kental